Hari Sabtu lalu (3/04), aku seperti biasa pilih tempat duduk paling belakang pas pelajarannya Bu Zan (Kimia). Sumpah, asli ngantuk banget. Mana aku duduknya sendiri lagi (gara-gara banyak yg izin buat rapat). Jadilah aku mati-matian menahan ngantuk yang udah menguasai jiwa ragaku. Dan di tengah boringnya ndengerin Bu Zan njelasin ketetapan avogadro, aku tiba2 teringat ama jidah (nenek) yang sampe sekarang nggak balik-balik ke jogja. Kenapa beliau pergi begitu saja?
Gara-gara mikirin jidah yang ndak pulang2 itu, pikiranku jadi merembet ke mana2, sampe jauuuuh banget. . Tiba2 pas lagi asyik2nya gitu, Bu Zan nunjuk ke arahku, "Unsur O ada berapa mbak?" Glek!
“Ehehehe, apa bu?” aku yang antara sadar dan tidak, cuma bisa cengengesan menatap wajah angker Bu Zan. Mata beliau mendelik2, membuatku panas dingin. Aduh bu, jangan galak2 to!
“Nglamunin sapa to kamu mbak?” tnya beliau, membuat seisi kelas ngetawain diriku. Oh, kejam sekali.
“Ngg…nganu bu. .,” aku mati kata. Bu Zan kayaknya puas banget liat aku salting plus diketawain sekelas.
“Kamu itu, pagi2 dah nglamun. Liat ni ibu, masih seger! Kalah kamu sama saya yang sudah nenek2 umur 60-an,” seru beliau bangga. Nah lo, dibanding2in kayak gitu, apa ndak mati kutu. Aku dari awal ampe akhir hanya bisa cengengesan, menunjukkan deretan kawat gigiku. Ampuun bu. Akhirnya selama 10 menit kedepan, aku diceramahi oleh guru kimia itu.
Tapi aku belum bisa berhenti mikirin jidah yang ndak balik2 ke jogja. Yah, sebenernya, ini emang bukan rumah jidah. . .
Empat tahun yg lalu, tepatnya tnggal 13 Februari 2005, jidah sampai ke tanah Jogja. Setelah bencana tsunami mengerikan itu. Dan mulai saat itu, jidah akan tinggal di sini, karena rumah di meulaboh sudah tidak layak tinggal walaupun tidak hancur. Saat itu, rumah kami masih di Prambanan. Masih kecil dan sempit. Tapi Alhamdulillah kami bahagia tinggal di sana. Hanya saja jidah jadi sangat pemurung dan tidak mau keluar rumah. Badannya semakin kurus, seperti tulang berbalut kulit.
Akhir Oktober 2006, kami pindah ke banguntapan, rumah kontrakan yang lebih besar. Kami harap jidah bisa lebih baik kondisinya setelah pindah. Tapi justru sebaliknya, semakin memburuk. Bahkan seharian hanya mengurung diri di rumah. Sakit juga mulai menggerogoti tubuhnya. Setiap magrib beliau selalu mengaji, tahajud dan dhuha tak pernah tinggal satupun. Dan kadang2 menyibukkan diri di dapur. Entah apa yg dikerjakan.
Awal Januari 2008, akhirnya kami mengantar jidah kembali ke banda aceh setelah jidah memaksa pulang (tidak ke meulaboh, karena kondisi jalan masih jelek). Beliau bilang hanya sebulan, paling lama dua bulan di sana. Pokoknya harus sampai ke Meulaboh, baru kembali ke Jogja.
Di Banda Aceh, jidah tinggal dengan anak perempuan tertuanya yang masih hidup bersama suami dan 3 anak lelakinya. Kebetulan 2 dari 3 sepupuku itu dokter. Jadi jidah mendapat perawatan ekstra di sana. Tapi keinginan jidah untuk kembali ke Meulaboh ditentang semua anggota keluarga besar, termasuk abahku. Kebetulan saat itu sedang ada konflik di keluarga soal harta warisan jid (kakek) ku yang wafat akibat tsunami. Entahlah, ini rumit.
Masuk tahun ke-5 setelah tsunami aceh. Sudah setahun lebih jidah kembali ke aceh, dan sepertinya tidak mau kembali ke sini lagi. Saudara-saudara yg lain juga entah alasan apa tidak bnyak yg berkunjung ke sini. Terakhir yg datang sepupuku. Dia mau cari sekolah untuk ambil spesialis. Nenek dari ummi juga sudah diajak tinggal di sini, tapi… ya aku tau. Di sini asing buat mereka. Di sini nggak ada siapa-siapa. Aku jadi sedih kalau memikirkan perjuangan abah dan ummi untuk membesarkan kami di kota yang tidak ada saudara seperti ini. Kalau lebaran datang, hanya di rumah saja. Sepi. Paling beberapa tetangga yg datang. Bahkan wktu gempa jogja, tidak ada yg datang!
Kampung halamanku yang tercinta. Aku tidak mengenalmu. Jadi aku mau pindah kampung halaman saja. Di sini jauh lebih baik darimu. Walaupun begitu, kenangan bersamamu akan selalu terpatri di hati. .
Hana loen kisah
Saboh riwayat
Kisah baroe that baroe that di aceh raya
. . .
Jumat, 10 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

mantaff...
BalasHapuskabur wae ke Aceh
=))
ngusir ki critaneeee. .
BalasHapusaku wis betah neng kenen og zayy .
i luv jogjaaaaaaaaaaaa
Ya Allah,, begitu ya.. :'(
BalasHapus@Zae
Dek Zae kuwi sing kabur-kabur wae gaweane :P
Saba ngon tabah
ngon tabah dudo bahgia