Sekarang saya jadi tambah ngeri, membayangkan betapa berat latihan untuk seleksi paskibraka. Tahukah kalian..? Minggu lalu, tanggal 22 Februari 2009, akhirnya dua dari sepuluh anak calon paskib sudah tereliminasi...Dan kisahnya sungguh dramatis.
Pagi itu pukul 6:30 kami bersepuluh sudah berkumpul di grahasabha UGM, tempat biasa orang2 berkumpul kalo sunmor. Tujuannya adalah latihan paskib,,, dan bawaannya seperti biasa. Namun kami dilarang memakai barang2 yang ada atribut teladannya. Alasannya, karena dianggap kurang etis atau bisa menimbulkan prasangka buruk dari orang lain.
Seperti biasa, pelatihnya pada ngaret... Pukul 7:55 salah satu pelatih kami yang bernama Mbak Karin tiba di tempat latihan dengan sepeda gunungnya dan sedikit ngos-ngosan. Sambil berkali-kali minta maaf karena terlambat, dia menyuruh kami melakukan pemanasan. Kami pun seketika jadi perhatian, soalnya kami pemanasannya bener2 di tengah jalan dengan dandanan aneh mungkin....
Setelah itu, pelatih yang lain berdatangan dan kami disuruh lari memutari gedung sebanyak 6x...
Menjelang tengah hari, dua orang mantan paskib 2007 (maz Akbar dan maz Ilyas) datang ke tampat kami latihan. Tak lama, datang lagi seorang mantan paskib 2006 (maz Ridwan) yang juga alumni SMAN 1 Teladan. Kami sempat bertanya-tanya untuk apa beliau-beliau datang...
Akhirnya pertanyaan kami terjawab...ketika pukul 11:00, satu persatu dari kami dipanggil dan dievaluasi secara personal di tempat tertutup (maksudnya di tempat yang gag ada siapa2). Sementara seorang anak dievaluasi, yang lain melakukan gerakan di tempat sekitar setengah jam (waaw,,,kaki serasa tak menginjak bumi...mati rasaa). Tapi untungnya habis itu maz Ilyas datang dan mulai berceloteh tentang hal-hal yang konyol-konyol. Jadi suasananya gag mak ziiing...
Kebetulan aku mendapat giliran evaluasi yang terakhir. Akhirnya, giliranku tiba. Sesi pertama adalah evaluasi dari 3 pelatih kami (maz Yudya, Mbak Puput, dan Mbak Karin). Kata mereka, aku punya semangat yang bagus diantara yang lain, tapi kadang suka berlebihan semangatnya dan melebihi porsi gitu...jadi saran mereka sebaiknya aku menyesuaikan segalanya dengan porsi yang ada. Kalau terlalu bersemangat, takutnya aku bakalan down kalo suatu saat nanti aku gagal.. (bener juga sih). Dan masih banyak komentar n evaluasi yang laen.
Sesi kedua, entah apa namanya ...yang jelas bener2 ekstrem. Yang mengevaluasi adalah maz akbar n maz ridwan. Mukaknya maz ridwan kaliatan angker banget, sementara maz akbar radha cengar-cengir gag jelas gitu...
Setelah opening dan sedikit berbasa-basi, maz ridwan tanyak, "seberapa besar kemantapan hati adek untuk menjadi paskibraka?" sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan sebelumnya oleh beliau, dan kini ditanyakan kembali. Dengan sedikit gugup dan ragu, aku menjawab "delapan puluh lima persen..." Seketika raut muka keduanya jadi berubah, antara marah, tidak percaya, kecewa...maz ridwan dan maz akbar nyaris bersamaan berkomentar, "Ini baru sebuah kemantapan hati lho dek? Kamu mau menjadikan niat segitu sebagai landasan kamu ikut paskib?" lalu aku berpikir... iya juga ya?
Aku bener-bener kehabisan kata-kata untuk membalas serbuan pertanyaan dan pernyataan dari para senior itu. Mereka berpendapat bahwa aku tidak bersungguh-sungguh ikut seleksi paskib ini. Aku ikut hanya untuk sekedar coba-coba. "Jadi seandainya masuk Alhamdulillah, gag masuk pun yo gag papa." begitu menurut mereka. Aku gag terima dengan komentar itu, namun aku aku pikir itu ada benarnya juga. Confused. Muka maz ridwan kembali jadi angker, dan beliau bilang gini, "Dek, saya ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin sangat berat untuk adek. Jadi, saya diamanahi oleh para pelatih untuk menyampaikan pada adek... bahwa... langkah adek terhenti sampai di sini saja." bagai tersambar petir, tiba-tiba darahku jadi berhenti mengalir. Aku khawatir kata2 maz yudya jadi bener, kalo aku bakal gag siap jatuh.
Aku masih diam sambil melakukan gerakan-gerakan aneh, kayak lirak-lirik, ganti-ganti posisi tempat duduk, cengar-cengir gag jelas... "gimana dek? Ada pembelaan?" lanjut maz Ridwan. Aku bertanya apa yang dimaksud dengan kata pembelaan. "Ya, siapa tau adek mau ngajuin pembelaan, jadi bisa meyakinkan kita kalo adek bersungguh-sungguh dan niat sepenuh hati untuk paskib," begitu ujar beliau. Namun aku benar-benar mati kata. Yang keluar justru malah kata-kata pengecut kayak pasrah, sok berbesar hati, sabar...aku sendiri jadi kayak orang linglung. Aku jadi teringat pernyataanku tentang prosentase niatku sebelumnya...delapan puluh lima persen! Apa itu benar? Rasanya aku gag mungkin se-syok ini kalo aku gag niat. Jadi, apa aku bener-bener sepenuh hati buat paskib?
Maz Ridwan dan Maz Akbar malah jadi ketawa. Aku ngrasa bodo banget. Akhirnya aku mulai ngajuin pembelaan. Bener2 abis-abisan aku ngebela diri ampe mau nangis rasanya...bodo! Setelah aku selese, maz Ridwan menanggapi pembelaanku. Katanya, "Oke dek. Jadi begitu pembelaan adek? Sebelumnya, saya mohon maaf...yang tadi itu cuma bercanda." Ziiiiiiingggg.....
Aku bingung antara ketawa ato nangis. Maz Akbar uda ngakak aja. Aku jadi serba salting..
Setelah evaluasi dengan para senior, aku jadi yakin ...aku bener-bener mantep ada di sini. Dan tidak ada istilah coba-coba untuk sesuatu yang berharga. Tapi aku siap jika aku ternyata tidak pantas mendapatkan itu semua....
Sabtu, 28 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar